Menunduk saat berbicara dengan yang lebih tua. Tersenyum- ketika
menyapa dengan mayoritas orang yang dijumpainya. Mengalah- saat lawan
menggempur dengan emosi. Mengakui segala
kelemahan dan kekurangan dirinya. Menghadapi partner tangguh- tanpa mengerahkan
pengawal. Dan memenangkan pertarungan-
tanpa harus membuat siapapun merasa terkalahkan. Jujur, Bersih Dan Menjauhi
Fitnah, Itulah Jokowi!
Nglurug_Tanpo_Bolo,
Menang_Tanpo_Ngasorake, itulah Joko Widodo, yang akrab dipanggil Jokowi, Pemenang
Pemilu dan Presiden ke tujuh Indonesia, 2014-2019 , yang secara maksimal mampu
mengamalkan segala nilai-nilai luhur Falsafah Jawa, yang intinya;
Wani_Ngalah_Dhuwur_Wekasane! (Berani Mengalah Untuk Meraih Kemenangan dan
Keluhuran Derajat)
Dalam
Falsafah masyarakat Jawa, banyak ajaran leluhur yang menjadi pedoman para
Pemimpin Jawa. Mereka , calon pemimpin, ataupun yang sudah jadi pemimpin,
menyadari betul akan dampak positip , ketika mereka mampu mengamalkan sejumlah
nilai-nilai luhur, yang hidup dan berakar dalam tradisi masyarakat JAWA.
Namun
sebaliknya, mereka juga menyadari , walaupun sering terlambat , jika dalam
menjalankan kepemimpinan , mengingkari nilai-nilai luhur Falsafah Jawa itu, dampak
Negatip yang “Nggegirisi” (mengerikan) bisa terjadi!
Para calon
Pemimpin dari kalangan Masyarakat Jawa , kebanyakan mudah mengingat , semua
nilai luhur itu, karena para Pujangga Jawa banyak mengemas ajaran-ajaran
kebaikan dan kebajikan, dalam Tembang/ Lagu Jawa, , yang mudah dihafal, dan
ditularkan dari mulut ke mulut sejak ratusan , bahkan ribuan tahun yang lalu.
Coba kita simak salah
satu Tembang Mocopat ini:
Dedalane Guna Lawan Yekti (Jalan menuju
kebajikan dan kebenaran)
Kudu Andhap Asor
( Harus berani bersikap Rendah Hati)
Wani Ngalah dhuwur Wekasane ( Berani
mengalah akan menghantarkan pada ketinggian pangkat dan derajat)
Tumungkula Yen Dipun Dukani ( Menunduklah
saat Dimarahi)
Bapang Den Simpangi
( Menghindari segala bentuk Permusuhan)
Ono Catur mungkur ( Jika ada yang
Memfitnah , diam, atau membalas dengan kebaikan)
Masih banyak
Tembang-tembang Jawa, yang mengandung ajaran luhur, dalam irama dan notasi yang
beraneka ragam, namun tetap mudah diingat dan dihafal. Bahkan dimasa lalu,
kebanyakan sekolah Negeri juga swasta ,
di Jawatengah dan Jawatimur, ada acara routin tiap tahun menyelenggarakan
LOMBA_Tembang_Mocopat.
Lomba semacam
kontes Nyanyi itu, dimulai dari tingkat sekolah Dasar dan Menengah, yang
disaring mulai dari Desa sampai Kabupaten. Lomba semacam ini, biasanya terus
diikuti dengan seminar budaya Jawa dalam skala yang beraneka situasi dan
kondisi.
Jangan heran,
jika fakta sejarah membuktikan, baru ada tujuh Presiden Indonesia, dan Enam
diantaranya berdarah dan berasal dari lingkar Budaya Jawa.
Karena
Kaderisasi Penanaman Nilai kebajikan dalam Budaya Jawa, telah ditanamkan sejak
usia dini, dan dimulai jauh sebelum Indonesia Merdeka. Satu-satunya Presiden
Indonesia , yang bukan dari Keluarga Jawa adalah BJ Habibie. Namun Habibie
,kelahiran Pare-Pare Sulawesi, terpaksa
ihlas mengawini Wanita Berdarah Jawa tulen, Ainun, sambil belajar Budaya Jawa,
sebelum menjadi Presiden Indonesia.
Banyak kisah
yang bisa disimak dari enam Presiden Indonesia
sebelumnya.
Presiden
Indonesia Pertama , Bungkarno, dan Presiden kedua, Suharto, sama-sama memiliki
catatan sukses dalam memimpin Indonesia. Walaupun bentuk keberhasilannya
berbeda, namun Dunia mengenal dua Presiden Indonesia itu sebagai Pemimpin Hebat
di Jaman-nya.
Namun karena
ada beberapa nilai luhur budaya Jawa , yang entah sadar atau tidak mereka
tinggalkan, dua Presiden Indonesia itu turun tahta dalam situasi yang kurang
indah.
BJ Habibie,
presiden ketiga Indonesia, yang lumayan banyak belajar Budaya jawa, walaupun
bukan dari suku Jawa, mampu mengakhiri Pemerintahanya dengan tidak terlalu
semrawut, dan tetap terkesan LEGOWO (ihlas). Padahal, pada jaman Pemerintahan Habibie,
begitu banyak tekanan, permusuhan sengit dari kubu lawan politiknya.
GusDur dan
Megawati, Presiden ketiga dan keempat Indonesia, yang entah sadar atau tidak,
memadukan gaya kepemimpinan Jawa , dengan nilai-nilai yang berkembang
dimasyarakat Global, baik bernuansa Agama maupun Demokrasi , juga punya
Prestasi. Namun dua Presiden ini , masing-masing , hanya mampu bertahan kurang
dari tiga tahun. Dan ketika mencalonkan diri dalam Pemilihan Presiden
berikutnya, mereka berdua gagal.
SBY, Presiden
kelima Indonesia , walaupun tidak terlalu hebat, namun karena cara dan gaya
Kepemimpinanya , sadar atau tidak , banyak diwarnai dengan model Budaya Jawa ,
Santun, Mengalah dan Tersenyum. Meski Partai yang dipimpin-nya banyak
tersandung masalah korupsi, SBY mampu menyelesaikan dua Pereode
Kepresidenan-nya dengan lebih baik , dibanding lima Presiden pendahulunya.
Kini,
Indonesia memiliki Jokowi. Presiden yang berasal dari desa di pinggiran kali
Surakarta Jawatengah.
Presiden ,
yang pernah memenangkan Pemilihan Walikota Solo, Kedua, tanpa beaya Kampanye,
dan mampu meraih suara 90 persen lebih. Dan Memenangkan Pemilihan Gubernur
Jakarta , hanya dengan dua Partai Pendukung, Menang, menghadapi pesaingnya,
FauziBowo, yang didukung 7 Partai Politik.
Jokowi, yang
tetap bergaya Jawa , ketika menghadapi Rakyat maupun para Tokoh Nasional dan
Internasional.
Lihatlah
ketika Jokowi ketemu Boss Facebook, Mark Suckerberg, yang memiliki kekayaan
lebih 170 trilyun rupiah, serta punya masa folower 69 juta di Indonesia , lebih
300-juta didunia. Dan Zuck , panggilan akrab Boss Facebok , menawari layanan
gratis untuk program Jokowi, E-Blusukan. Namun, dengan santun, dan tetap ramah,
tidak segera grusa-grusu menerima rayuan Milyarder Dunia termuda itu. Jokowi
tetap akan menghitung dari segala aspek , atas tawaran itu, dengan mengatakan “
Tak ada makan siang yang gratis”.
Coba
bandingkan dengan saat Jokowi ketemu Prabowo , medio okt 2014, yang hanya punya
kekayaan kurang dari 5 trilyun rupiah, dan pengikut 63-juta di Indonesia.
Jokowi tetap santun, menunduk , tersenyum , dan tidak jumawa. Bahkan Jokowi
tetap mau menerima undangan Prabowo , untuk datang ke rumahnya di Hambalang-Bogor,
ketika sudah jadi Presiden Indonesia.
Yang ini
lebih mengejutkan, dengan rendah hati , Jokowi mengatakan tidak bisa bernyanyi
, sehingga tidak mau nyanyi ketika diminta Prabowo saat di rumah Hambalang.
Padahal, Jokowi adalah penggemar Music Metal , yang dimobilnya sering diputar
banyak CD lagu-lagu rock.
Kerendahan
hati Jokowi , juga bisa berarti lain , ketika dimasa kampanye diminta
menyanyikan lagu Oma Irama, ternyata bisa.
Kerendahan
hati Jokowi, khas Wong Ndeso_Jawa, ternyata juga bisa menjadi model Diplomasi
tanpa saling menyakiti. (Kukuh_PIFM)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar