19/10/14

Jokowi , Presiden Indonesia Dengan Diplomasi Rendah Hati



Menunduk saat berbicara dengan yang lebih tua. Tersenyum- ketika menyapa dengan mayoritas orang yang dijumpainya. Mengalah- saat lawan menggempur dengan emosi.  Mengakui segala kelemahan dan kekurangan dirinya. Menghadapi partner tangguh- tanpa mengerahkan pengawal.  Dan memenangkan pertarungan- tanpa harus membuat siapapun merasa terkalahkan. Jujur, Bersih Dan Menjauhi Fitnah, Itulah Jokowi! 

Nglurug_Tanpo_Bolo, Menang_Tanpo_Ngasorake, itulah Joko Widodo, yang akrab dipanggil Jokowi, Pemenang Pemilu dan Presiden ke tujuh Indonesia, 2014-2019 , yang secara maksimal mampu mengamalkan segala nilai-nilai luhur Falsafah Jawa, yang intinya; Wani_Ngalah_Dhuwur_Wekasane! (Berani Mengalah Untuk Meraih Kemenangan dan Keluhuran Derajat)


Dalam Falsafah masyarakat Jawa, banyak ajaran leluhur yang menjadi pedoman para Pemimpin Jawa. Mereka , calon pemimpin, ataupun yang sudah jadi pemimpin, menyadari betul akan dampak positip , ketika mereka mampu mengamalkan sejumlah nilai-nilai luhur, yang hidup dan berakar dalam tradisi masyarakat JAWA.

Namun sebaliknya, mereka juga menyadari , walaupun sering terlambat , jika dalam menjalankan kepemimpinan , mengingkari nilai-nilai luhur Falsafah Jawa itu, dampak Negatip yang “Nggegirisi” (mengerikan) bisa terjadi!

Para calon Pemimpin dari kalangan Masyarakat Jawa , kebanyakan mudah mengingat , semua nilai luhur itu, karena para Pujangga Jawa banyak mengemas ajaran-ajaran kebaikan dan kebajikan, dalam Tembang/ Lagu Jawa, , yang mudah dihafal, dan ditularkan dari mulut ke mulut sejak ratusan , bahkan ribuan tahun yang lalu.


Coba kita simak salah satu Tembang Mocopat ini:

Dedalane Guna  Lawan Yekti (Jalan menuju kebajikan dan kebenaran)
Kudu Andhap Asor ( Harus berani bersikap Rendah Hati)
Wani Ngalah dhuwur Wekasane ( Berani mengalah akan menghantarkan pada ketinggian pangkat dan derajat)
Tumungkula Yen Dipun Dukani ( Menunduklah saat Dimarahi)
Bapang Den Simpangi ( Menghindari segala bentuk Permusuhan)
Ono Catur mungkur  ( Jika ada yang Memfitnah , diam, atau membalas dengan kebaikan)


Masih banyak Tembang-tembang Jawa, yang mengandung ajaran luhur, dalam irama dan notasi yang beraneka ragam, namun tetap mudah diingat dan dihafal. Bahkan dimasa lalu, kebanyakan sekolah Negeri  juga swasta , di Jawatengah dan Jawatimur, ada acara routin tiap tahun menyelenggarakan LOMBA_Tembang_Mocopat. 

Lomba semacam kontes Nyanyi itu, dimulai dari tingkat sekolah Dasar dan Menengah, yang disaring mulai dari Desa sampai Kabupaten. Lomba semacam ini, biasanya terus diikuti dengan seminar budaya Jawa dalam skala yang beraneka situasi dan kondisi.
Jangan heran, jika fakta sejarah membuktikan, baru ada tujuh Presiden Indonesia, dan Enam diantaranya berdarah dan berasal dari lingkar Budaya Jawa. 

Karena Kaderisasi Penanaman Nilai kebajikan dalam Budaya Jawa, telah ditanamkan sejak usia dini, dan dimulai jauh sebelum Indonesia Merdeka. Satu-satunya Presiden Indonesia , yang bukan dari Keluarga Jawa adalah BJ Habibie. Namun Habibie ,kelahiran Pare-Pare Sulawesi,  terpaksa ihlas mengawini Wanita Berdarah Jawa tulen, Ainun, sambil belajar Budaya Jawa, sebelum menjadi Presiden Indonesia.

Banyak kisah yang bisa disimak dari enam Presiden Indonesia  sebelumnya.
Presiden Indonesia Pertama , Bungkarno, dan Presiden kedua, Suharto, sama-sama memiliki catatan sukses dalam memimpin Indonesia. Walaupun bentuk keberhasilannya berbeda, namun Dunia mengenal dua Presiden Indonesia itu sebagai Pemimpin Hebat di Jaman-nya.

Namun karena ada beberapa nilai luhur budaya Jawa , yang entah sadar atau tidak mereka tinggalkan, dua Presiden Indonesia itu turun tahta dalam situasi yang kurang indah.

BJ Habibie, presiden ketiga Indonesia, yang lumayan banyak belajar Budaya jawa, walaupun bukan dari suku Jawa, mampu mengakhiri Pemerintahanya dengan tidak terlalu semrawut, dan tetap terkesan LEGOWO (ihlas). Padahal, pada jaman Pemerintahan Habibie, begitu banyak tekanan, permusuhan sengit dari kubu lawan politiknya.

GusDur dan Megawati, Presiden ketiga dan keempat Indonesia, yang entah sadar atau tidak, memadukan gaya kepemimpinan Jawa , dengan nilai-nilai yang berkembang dimasyarakat Global, baik bernuansa Agama maupun Demokrasi , juga punya Prestasi. Namun dua Presiden ini , masing-masing , hanya mampu bertahan kurang dari tiga tahun. Dan ketika mencalonkan diri dalam Pemilihan Presiden berikutnya, mereka berdua gagal.

SBY, Presiden kelima Indonesia , walaupun tidak terlalu hebat, namun karena cara dan gaya Kepemimpinanya , sadar atau tidak , banyak diwarnai dengan model Budaya Jawa , Santun, Mengalah dan Tersenyum. Meski Partai yang dipimpin-nya banyak tersandung masalah korupsi, SBY mampu menyelesaikan dua Pereode Kepresidenan-nya dengan lebih baik , dibanding lima Presiden pendahulunya.

Kini, Indonesia memiliki Jokowi. Presiden yang berasal dari desa di pinggiran kali Surakarta Jawatengah. 

Presiden , yang pernah memenangkan Pemilihan Walikota Solo, Kedua, tanpa beaya Kampanye, dan mampu meraih suara 90 persen lebih. Dan Memenangkan Pemilihan Gubernur Jakarta , hanya dengan dua Partai Pendukung, Menang, menghadapi pesaingnya, FauziBowo, yang didukung 7 Partai Politik.

Jokowi, yang tetap bergaya Jawa , ketika menghadapi Rakyat maupun para Tokoh Nasional dan Internasional. 

Lihatlah ketika Jokowi ketemu Boss Facebook, Mark Suckerberg, yang memiliki kekayaan lebih 170 trilyun rupiah, serta punya masa folower 69 juta di Indonesia , lebih 300-juta didunia. Dan Zuck , panggilan akrab Boss Facebok , menawari layanan gratis untuk program Jokowi, E-Blusukan. Namun, dengan santun, dan tetap ramah, tidak segera grusa-grusu menerima rayuan Milyarder Dunia termuda itu. Jokowi tetap akan menghitung dari segala aspek , atas tawaran itu, dengan mengatakan “ Tak ada makan siang yang gratis”.

Coba bandingkan dengan saat Jokowi ketemu Prabowo , medio okt 2014, yang hanya punya kekayaan kurang dari 5 trilyun rupiah, dan pengikut 63-juta di Indonesia. Jokowi tetap santun, menunduk , tersenyum , dan tidak jumawa. Bahkan Jokowi tetap mau menerima undangan Prabowo , untuk datang ke rumahnya di Hambalang-Bogor, ketika sudah jadi Presiden Indonesia. 

Yang ini lebih mengejutkan, dengan rendah hati , Jokowi mengatakan tidak bisa bernyanyi , sehingga tidak mau nyanyi ketika diminta Prabowo saat di rumah Hambalang. Padahal, Jokowi adalah penggemar Music Metal , yang dimobilnya sering diputar banyak CD lagu-lagu rock.

Kerendahan hati Jokowi , juga bisa berarti lain , ketika dimasa kampanye diminta menyanyikan lagu Oma Irama, ternyata bisa. 

Kerendahan hati Jokowi, khas Wong Ndeso_Jawa, ternyata juga bisa menjadi model Diplomasi tanpa saling menyakiti. (Kukuh_PIFM)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar